Senin, 23 Desember 2013

Ada Lonceng Kematian Di Antara Desember dan 2015

Akhir tahun 2013 ini beberapa perusahaan mengeluarkan laporan akhir tahun, termasuk perusahaan gula. Dari catatan pendapatan mereka, serangan gula rafinasi terbukti mampu menurunkan produksi gula tebu nasional. Jangankan perusahaan milik BUMN yang "kata dia," -anak tiri dalam negri-, sekelas "Gulaku" yang sebelumnya tidak pernah menurunkan harga saja, akhir-akhir ini sampai terpaksa menurunkan harga.

Tapi yang paling tragis sebenarnya nasib para petani tebu, alih-alih mempertahankan komuditas yang harganya rendah, beberapa petani mulai menyulap lahannya menjadi "ladang lain". Jika dibiarkan terus menerus, tentu produk impor itu semakin merajalela. Padahal kalau kita tau "bahaya" gula rafinasi, yakin kita lebih memilih gula tebu yang rada kekuning-kungingan itu dari pada "yang putih-putih".

Namun kenapa regulasi pemerintah seolah tetap mendukung barang impor tersebut? Berkali-kali petani turun kejalan, teriak sampai tenggorokan sakit. Suaranya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri wakil-wakilnya....

Anehnya, media-media yang menjadi "pemimpin" juga sepertinya enggan mengangkat tema-tema tersebut, tentang "Plus Minusnya" rafinasi, tentang cita-cita kemandirian pangan yang diciderai dengan peraturan kontra produktif, serta tentang angan-angan untuk memenangkan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti.

Di Negara ASEAN lain sudah jamak membicarakan strategi memenangkan, di Indonesia, tentang apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 saja masih kurang di sosialisasikan. Padahal, (jika boleh diibaratkan) pemain bola profesional sekelas Ronaldo sekalipun, pasti akan kaget kalau tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, langsung disuruh bermain di sawah, dengan anak-anak yang terbiasa bermain lumpur. 

Kesimpulanku tertuju pada satu sudut, tidak jauh dari seting kapitalis. Sebuah kepentingan pasar, dan Indonesia yang memiliki banyak penduduk akan dijadikan mangsanya.

Gula itu hanya salah satu sampel saja, masih banyak komuditas-komuditas pertanian lainnya yang bernasib serupa. Menderita, menunggu lonceng kematian berbunyi antara Desember dan 2015. 

Jelas, kalau pemerintah tidak turun tangan dan meninjau ulang peraturan-peraturan yang telah dibuatnya, kondisi seperti ini akan terus terjadi. Bahagia sekali beberapa gelintir orang yang menjadi "pemain" diatas, dan lapar sekali perut-perut petani dibawah.

Tapi memang, mereka yang dahulu kita pilih, pandai sekali beretorika. Seperti pahlawan mereka teriak, "Untuk menstabilkan harga mau tidak mau harus Impor, Kedelai impor, Beras impor, Bawang impor, Gula impor, kalau cabe mau naik kita impor lagi," Padahal dibelakang ada kong kalikong dengan para cukong, "sekali teken persenannya berapa? cukup tidak buat modal tahun depan saya maju lagi,"

Sebentar lagi 2014, ujung tahun politik yang hawanya sudah kental sepanjang tahun ini. Apakah para pemimpin yang "hobi impor" lagi yang akan kita pilih? Akankah pemimpin yang berhubungan mesrah dengan para cukong yang kita pilih? Atau haruskah kita memilih untuk tidak memilih??

Selasa, 18 Juni 2013

Kualitas Dibawah Setandar, Kenaikan Harga BBM Digugat

Dinilai masih dibawah setandar MOPS (Mean Oil Platts Singapore), kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang baru saja disahkan pemerintah senin malam (17/6), digugat oleh sekelompok warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga bersama Komite Pengawas Bensin Bertimbal (KPBB), selasa (18/6).


Sidang perdana gugatan warga (citizen lawsuit) terhadap pemerintah itu dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan itu dilayangkan kepada lima orang yaitu; Persiden Susilo Bambang Yodoyono, kementrian keuangan Hatta Radjasa & Muhammad Chatib Basri, kementrian ESDM Jero Watjik, direktur Pertamina Karen Agustiawan, serta kepala BPH MIGAS Andy Noorsaman Sommeng.
Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin menyatakan, bahwa gugatan ini bukan mempermasalahkan naik atau tidaknya harga BBM, namun lebih kepada kejujuran pemerintah terkait harga BBM. Menurutnya, kenaikan harga BBM Indonesia yang pada harga MOPS itu tidak sebanding dengan kualitas MOPS sendiri.
“Kami mengugat kebijakan penetapan harga BBM bersubsidi, karena melihat adanya manipulasi di dalamnya. Salah satunya adalah kualitas BBM, dalam menaikkan harga BBM pemerintah mengacu pada harga MOPS, namun kualitas BBM yang dipasarkan sekarang jauh dibawah MOPS,” kata Ahmad, sebelum sidang di Pengadilan Negri Jakarta Pusat.
Menurutnya bensin di Singapore yang menjadi acuan penetapan harga premium itu memiliki RON 92 serta ada 14 parameter lainnya sehingga bisa memenuhi syarat untuk kendaraan sekelas Euro 2.
Sedangkan premium di Indonesia RON-nya hanya 88 dan banyak parameter lainnya yang tidak lolos untuk digunakan, bahkan untuk kendaraan sekelas Euro 1 sekalipun.
Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, akibat rendahnya kualitas BBM yang dikonsumsi rakyat Indonesia ini, pada Juli 2010 lalu telah menyebabkan banyak mobil mengalami kerusakan fuel pump. Selain itu premium jenis ini juga menyebabkan banyak kerusakkan busi motor pada Oktorber 2012 sampai Maret 2013.
“Sesuai penelitian yang pernah dilakukan oleh Japan Manufacturer Automobile Association, premium RON 88 ini mengandung aditif ferrocene yang berdampak pada kerusakan fuel pump dan busi, selain juga menyebabkan pencemaran udara,” kata Dia.
Hal senada juga disampaikan oleh Lukmanul Hakim, kuasa hukum Forum Komunikasi Warga. Menurutnya, jika premium dan solar dipasaran ditetapkan dengan setandar harga MOPS itu adalah tindakan pembodohan.
“Premium kita kualitasnya relatif rendah, ko mau dijual dengan harga kualitas Pertamax,” kata dia dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Lebih lanjut Lukman juga mengatakan langkah pemerintah dengan menaikan harga BBM Bersubsidi, jelas-jelas telah mengabaikan amanah UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan amanah UU No.8 tahun 1999 tentang UU Perlindungan Konsumen.
Menurutnya, sebelum menaikkan harga mestinya pemerintah terlebih dahulu memberikan informasi secara terbuka, obyektif dan adil mengenai standard serta acuan kualitas. Termasuk spesifikasi  dan biaya produksi BBM (Premium) Bersubsidi kepada konsumennya, dalam hal ini adalah rakyat Indonesia secara umum.
“Kualitas, spesifikasi, harga pokok produksi dan harga jual BBM (Premium) Bersubsidi dibanding dengan BBM di Negara lain tentu berbeda pula. Jadi tidak dapat secara serta merta di sama ratakan, artinya perbandingan tersebut tidak dapat hanya quote unquote, karena harus terlebih dahulu dilihat dan dinilai dari tolak ukurnya, yaitu bagaimana kualitasnya, spesifikasinya, Biaya Produksi dan baru bisa di nilai (dibandingkan) Harganya,” kata Lukman.
Namun sayang, dalam sidang perdana hari ini, semua pihak tergugat tidak ada yang menghadiri persidangan sehingga ketua majelis hakim, Nawawi Pamolango, harus menunda sidang ini hingga dua pekan ke depan. “Pihak tergugat tidak hadir maka sidang ditunda dua pekan menjadi hari Selasa 2 Juli 2013,” kata Nawawi.

Kamis, 10 Januari 2013

Jakarta dan Banjir



Jakarta, 10 Januari 2013. Berbeda dengan kemarin, hujan pada pagi hari ini tidak sampai membuat pelataran depan kontrakan di Manggarai tergenang banjir. Sebenarnya sudah lama saya tau tentang banjir di Jakarta, sebagai “Ibu Kota Negara” hampir setiap sesuatu yang terjadi di sini pasti menyebar keseluruh pelosok Negri (sesuatu yang sangat berbeda dengan daerah saya, sebuah daerah tertutup “apa yang terjadi di sana ya hanya orang sana yang tau”).
Sepintas pengamatan, menurut saya banjir yang selalu terjadi di Jakarta bukan akibat dari banyaknya curah hujan. Banjir yang sudah seperti kutukan ini terjadi “akibat dari pembangunan yang tidak mempertimbangkan dampak ekologis baik terhadap tumbuhan maupun kemampuan tanah dalam meresap air”. Hampir semua lahan di Jakarta ditutup oleh semen, aspal atau bangunan & sangat sedikit tanah yang terbuka. Sedikitnya tanah yang terbuka itu masih diperparah dengan kepadatan tanah yang tidak subur sehingga susah menyerap air. Sehingga wajar meskipun curah hujan tidak terlalu besar, berita banjir di Jakarta tetap biasa terdengar.
Banyak upaya yang telah diusahakan oleh pemerintah untuk mengurangi banjir, mulai dari membuat gorong-gorong sampai (rencananya) akan membuat Trowongan Serbaguna atau “Deep Tunel”. Semua usaha itu memang pantas dicoba sebagai sebuah ikhtiar bagi kebaikan bersama. Namun kita juga pantas mempertanyakan efektivitas dari proyek-proyek tersebut, “Benarkah hal tersebut mampu menangkal kutukan banjir di Jakarta ini? Berapa lama pengerjaannya? Berapa besar dampak ekonomi, politik & sosialnya? Serta berapa lama hal tersebut mampu menangani banjir di Jakarta?”
Secara sederhana, kutukan banjir ini bisa ditangkal andai Jakarta mampu berbenah diri dengan menyediakan lebih banyak lagi tempat-tempat kosong di titik-titik rawan banjir dan diganti dengan penghijauan yang mampu menyerap air. Namun harga yang harus dibayar dengan dampak ekonomi, politik dan sosial tentu tidak kecil mengingat setiap tempat di Jakarta memiliki nilai ekonomi yang tinggi & masyarakat yang hetrogen.
Mungkin atas pertimbangan ini “Deep Tunel” menjadi alternatif pilihan meski dana yang dikeluarkan tidak sedikit. Wacana “Mega Proyek” ini langsung mendapat sorotan dari berbagai golongan, banyak yang mengharapkan pelaksanaan proyek ini & banyak juga yang mempertanyakan atau sekedar mengkhawatirkan pelaksanaannya. Berkaca pada kasus mega proyek hambalang, jika proyek ini berjalan, dengan banyaknya dana dari proyek ini bukan tidak mungkin akan mengundang koruptor yang menghalangi realisasinya. Jika mega proyek ini gagal & banjir tetap terjadi maka nama Jokowi sebagai Gubernur Penuh Harapan akan tercoreng dengan sendirinya.
Sebagai gubernur yang merakyat, sebenarnya Jokowi masih punya alternatif lain untuk mengurangi banjir, yaitu dengan mengembalikan kemampuan tanah dalam meresap air. Sudah sejak lama para petani di Indonesia faham bahwa tanah yang subur dengan pupuk kompos akan lebih mudah menyerap dan menyimpan air dari pada tanah yang tandus.
Caranya: daun, ranting atau kompos lainnya yang kering dikubur dalam tanah berkedalaman 1M, dengan begitu sampah organik akan membusuk dan tanah menjadi subur sehingga mudah menyerap dan menyimpan air.
Dengan mengajak masyarakat dan pemkot secara bersama-sama menyuburkan tanah begitu, bukan tidak mungkin banjir di Jakarta bisa dikurangi & Jakarta pun memiliki kesempatan menjadi lebih asri. Selanjutnya tinggal memudahkan jalur air dari hulu ke hilir dengan normalisasi sungai yang relatif lebih murah dan mudah dari pada pembuatan dan perawatan “Deep Tunel”.

Selasa, 22 November 2011

SARJANA, dalam Kenyataan dan Image Masyarakat. (Sebuah refleksi)


Satu tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai saat itu (Agustus 2010.red) paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Dengan perincian jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sampai saat itu tercatat berjumlah 108,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, ternyata sebanyak 54,5 juta (50,38%) merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah (Tidak berpendidikan).

Tanggal 17 Desember 2011 nanti UIN Sunan Kalijaga akan mengadakan Wisuda yang berarti akan melepaskan para ahli-ahlinya (sarjananya.red). Bagi sebagian orang Wisuda dimaknai sebagai pesta keberhasilan, namun ada juga yang memandangnya sebagai pintu keluar semata, bahkan lebih miris ada yang memaknai sebagai pintu penganggura intelektual.

Saya hanya membayangkan, jika perguruan tinggi setingkat UIN Sunan Kalijaga saja mampu membai'at lebih dari 60 sarjana tiap periodenya (padahal satu tahun ada tiga periode) bagaimana dengan perguruan tinggi yang lebih besar? Jika kita dipatok rata-rata setiap perguruan membai'at 50 sarjana / diplomat saja dalam tiap acara wisuda kita bisa menyimpulkan bahwa Indonesia ini, benar-benar dipenuhi manusia berpendidikan bergelar sarjana.

Ah, kembali saya teringat lyrik lagu Bang.Iwan yang berjudul "Sarjana Muda" katanya:
.........Empat tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya....... 
Sepintas saya bisa menghibur diri karena dalam masa perkuliahan saya lebih dari 4th, jadi tidak seharusnya saya tersindir dengan lagu itu dan menurut pengalaman dengan lebih dari 4th itu harusnya saya berani meradang menerjang mereka yang hanya 4th hehehee... Tapi, alih-alih berfikir objektif, mungkin itu hanya rasionalisasi yang ditujukan untuk menghibur diri saja. Pada kenyataannya sarjana pengangguran adalah problematika bangsa kita sejak zaman dahulu (setidaknya menurut Bang.Iwan dalam bincang-bincang bersamanya ketika menyampaikan latar belakang lagu Sarjana Muda).

Kesempatan kerja yang ada tidak sebanding dengan wisudawan yang dihasilkan kampus setiap tahunnya dituduh sebagai penyebab banyaknya pengangguran intelektual ini. Jika rata-rata yang saya katakan diatas kita hitung, maka ada jutaan wisudawan di seluruh Indonesia baik yang dihasilkan PTS ataupun PTN. Sedangkan lapangan pekerjaan yang ada mungkin tidak sampai 50% mampu menampung mereka. Terlebih lagi dengan adanya moratorium penghentian penerimaan PNS karena mayoritas mahasiswa yang kuliah itu ingin menjadi PNS (Padahal Rasyid Ridha keluar dari sekolah karena tidak mau jika setelah lulus menjadi PNS).

Semangat belajar untuk menjadi PNS menurut saya bukanlah semangat dasar pendidikan negri ini, karena identitas pembelajaran negri ini itu jelas tertulis “Untuk mencerdaskan bangsa”. Bukan untuk menciptakan para pegawai, buruh atau kaum kapitalis – borjuis yang hanya akan menindas mereka yang tidak belajar (Rakyat.red).

Disinilah akar kemiskinan nilai-nilai pembelajaran kita, orang yang sekolah diidentikkan sebagai orang yang mencari ijazah saja, dan ijazah itu difahami sebagai jimat sakti untuk mencari kerja. Pemahaman seperti itu seakan sudah merasuk kedalam sanubari bangsa ini, mereka lupa akan tujuan dasar pendidikan itu sendiri. Bukan hanya orang kampung yang berpandangan seperti itu, lihat saja orang-orang kota yang berdasi bahkan para professor doctor sekalipun, mereka menyulap universitas-universitas dari asas aslinya “Mencerdaskan Bangsa” menjadi “Agent yang secara khusus pencetak kaum kapitalis modern” semuanya dilakukan demi kepentingan pasar.

Saya tidak mengada-ada mengatakan hal itu, lihat saja misal: “UIN Sunan Kalijaga” tempat saya kuliah, hampir setiap bertemu orang dan ditanya “Kau kuliah dimana?” kalau saya jawab jujur pasti pertanyaan selanjutnya tidak jauh dari “Memangnya setelah lulus dari situ bisa kerja dimana?”. Itulah realitas sosial masyarakat kita, ketika uang sudah dianggap sebagai tujuan utama dan tanpa uang manusia akan merasa lemah, maka hampir seluruh usaha manusia ditujukan demi mendapatkan uang. Bahkan nilai-nilai luhur pendidikan untuk mencerdaskan bangsa juga diganti dengan “Pendidikan hanya untuk mencari kerja”.

Akibat paling fatal dari pemahaman terhadap pendidikan yang salah kaprah seperti itu adalah beredarnya jual-beli pendidikan, jual-beli gelar dan jual-beli ijazah. Untuk kata-kata ini saya juga tidak mengada-ada, silahkan anda search info atau berita tentang “para calon pimpinan daerah yang dicegal karena kasus Ijazah palsu” atau “Praktik illegal jual-beli ijazah dll”, di Google saja banyak apalagi yang tidak terekam. Umumnya kerja illegal adalah kerja bawah tanah, jika yang muncul ke permukaan saja banyak berarti yang dibawah tanah pasti lebih banyak lagi. Dengan banyaknya praktik illegal itu maka wajar saja jika kita temui sangat banyak sarjana yang kapasitasnya masih jauh dari kualitas Insan Akademik atau Intelektual.

Para sarjana sering diidentikkan sebagai kaum intelektual, namun pada kenyataannya tidak setiap sarjana itu benar-benar seorang intelektual. Sarjana adalah gelar bagi orang yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, sedang intelektual adalah seseorang yang cerdas, berfikir dengan berlandaskan ilmu pengetahuan. Ada perbedaan mendasar disana, namun (sebagaimana umumnya, bahasa hanyalah kebiasaan) kata sarjana tetap saja identik dengan intelektual walaupun tidak semua sarjana benar-benar memiliki kualitas “intelektual”.

Problem ini harus segera dijawab pemerintah dan lembaga pendidikan, jika tidak mau melihat makin banyaknya pengangguran bergelar sarjana. Jangan sampai moment wisuda menjadi pintu keluar sarjana pengangguran tanpa kesempatan kerja yang pasti. Jangan sampai juga pendidikan terus diasumsikan sebagai “cara mencari pekerjaan” saja.

Sampai disini memang ada permasalahan mendasar yang juga tidak kalah penting, kenyataan bahwa “Tanpa uang, manusia hampir tidak bisa melakukan apa-apa” meniscayakan usaha untuk mencari uang itu adalah hal yang “Mutlak dibutuhkan”. Namun menggadaikan pendidikan kepada pasar bukan jalan terbaik bagi pemecahan masalah ini. Karena seperti yang saya katakana diatas bahwa “Pendidikan yang diarakhan ke pasar, hanya akan memunculkan para penindas-penindas baru yang melestarikan ketimpangan sosial”. Pada titik inilah benturan keras antara Idealisme dimana “sarjan” sebagai kalangan “intelektual” seharusnya mampu mengayomi masyarakat, memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan dst, dengan Realitas dimana “sarjan” itu juga manusia biasa bukan dewa sakti mandra guna. Mereka yang bertahan dengan idealismenya rata-rata hanya hidup biasa saja bahkan cenderung miskin, sedang mereka yang mengedepankan realitas kemudian ikut fight dalam kacah dunia kapitalis bisa menjadi kaya raya namun tak jarang mereka menjadi penindas.

Permasalahan ini sudah lama menjadi “PR” pemerintah dan lembaga pendidikan. Ada lembaga pendidikan yang tetap idealis dan akibatnya mahasiswanya sedikit karena tidak sesuai dengan permintaan pasar yang sudah mengakar keurat rakyat. Sebut saja misal Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, apalagi Jurusan Filsafat dan Sosiologi Agama yang dari dahulu jumlahnya tidak pernah mampu menyaingi Jurusan-jurusan di Fakultas Saintek. Sedangkan lembaga yang menggadaikan idealism pendidikan dengan pasarnya bisa anda lihat sendiri (biasanya mereka tidak suka disebut begitu, namun kenyataannya memang begitu). Sebagai pisau analisis anda bisa melihat pada brosur atau iklannya, mayoritas lembaga yang sudah berafiliasi atau bahkan pesanan pasar akan dengan sangat bangganya memamerkan bahwa “Lulusan dari sini akan kerja di sini” atau “para alumni kami bekerja di ….. dst” atau juga “kami telah bekerjasama dengan beberapa instasi dan mereka mempercayakan tenaga ahli dari lulusan kami dst”. Silahkan cari sendiri, banyak ko’ & bagi saya itu bukti bahwa identitas pendidikan untuk mencerdaskan bangsa telah beralih menjadi pendidikan untuk mencari kerja. Agent of Control telah beralih halauan menjadi Agent of Kapitalis.

Jalan keluar untuk menengahi kedua permasalahan mendasar itu sebenarnya  sering diusahakan. Misal di UIN Sunan Kalijaga dibawah pimpinan Musa As’ari akhir-akhir ini seolah “meneriakkan” agar mahasiswa menjadi interpreneur. Interpreneur dianggap sebagai jalan keluar bagi mahasiswa dan calon sarjana. Karena dengan jiwa ini (wirausaha.red) mahasiswa tidak akan lagi tergantung pada intansi atau lowongan pekerjaan, namun dia diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat membantu mengentas angka pengangguran.

Glombang interpreneur terjadi beguiling-guling di UIN Sunan Kalijaga baik yang interpreneur murni sampai interpreneur karbitan. Akan tetapi konsep ini juga bukan berarti sempurna dan berjalan tanpa kritik. Banyak yang beranggapan bahwa konsep interpreneur ini seolah mengarahkan mahasiswa untuk menjadi “pekerja saja dan mengurangi nuansa akademisnya”. Akan tetapi menurut saya, ada sebuah niat baik yang itu perlu diberi apresiasi yaitu menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang mandiri dan menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat dengan berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Namun tetap butuh control (seperti kritik untuk membangun) agar niat baik menjadikan mahasiswa sebagai pemula, pencetus dan pelopor yang menciptkan lapangan kerja bisa berjalan tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai Insan Akademik / Intelektual Sejati.

Sampai sini juga masih ada permasalahan yaitu mengenai “persepsi umum”. Masyarakat kita sudah terlanjur beranggapan bahwa “sarjana sepantasnya bekerja di kantor, bukan menyurung grobag dll”. Image itu sudah terlalu kuat, bisa kita bayangkan jika orang tua kita yang tidak tau bentuk persaingan dan peluang antara kerja di instansi dan bekerja mandiri melihat anaknya bekerja sebagai seorang wirausaha masih pemula pula, miris, anggapan “percumah sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hanya begitu” akan muncul bak hujan badai.

Dari anggapan seperti ini jua banyak sarjana yang ikut terbawa arus dan gengsi untuk terjun kedunia usaha mandiri dari bawah. Mereka yang tidak tahan itu terus beranggan bahwa sarjana yang sukses harus duduk dipemerintahan, perusahaan dan kedudukan lainnya. Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang, hampir setiap ada lowongan / CPNS sarjana berjubel seolah tanpa mempertimbangkan peluang.

Merubah image bukan hal yang mudah, namun tetap bukan hal yang mustahil. Jika pemerintah dan media mampu bekerjasama dengan baik dalam hal ini Insya Allah image tersebut akan berubah. Sudah terlalu banyak sarjana yang bukan Intelektual, sudah terlalu banyak sarjana yang menjadi sampah masyarakat, sudah terlalu banyak sarjana kolot yang hanya mau berkerja dengan dasi.

Wallahu’alam…………


Senin, 21 November 2011

Gaya Cerdas & Sehat Untuk Berdebat Versi al-Qur'an; Sebuah Pengantar

"Debat" atau dalam bahasa 'Ulumul Qur'an "Jadal"
Berdebat atau adu argumen atau padu (Jawa Ngapak) mungkin bukan sesuatu yang asing bagi kita. Dalam keseharian kita "baik secara terencana ataupun tidak" kita sering melakukan perdebatan sengit yang terkadang tidak ada gunanya bahkan berakhir menjadi suatu pertengkaran. Padahal sebagaimana pernah dikutip The Stir Cafemom bahwa "melakukan perdebatan yang berakhir dengan pertengkaran bisa mempengaruhi kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah selama 24 jam setelah pertengkaran terjadi. Sel-sel yang berguna untuk membunuh kuman dan virus penyakit dalam tubuh pun menjadi berkurang". Ada banyak efek buruk yang bisa dirasakan jika terlalu sering berdebat seperti: Membuat jantung berdetuk lebih kencang (sebagai akibat dari rasa tegang, efek ini mirip dengan efek nikotin pada rokok). Saat perdebatan berlangsung adrenalin terus dipompa sehingga sampai perdebatan berakhir biasanya tubuh akan merasa  lelah, tapi otak cemas, akibatnya adalah susah tidur atau Isomnia dst.
Debat, dalam banyak kasus memang menimbulkan efek yang negatif bagi kesehatan, namun tak jarang dalam kondisi kritis, debat sering menjadi solusi untuk mempetrahankan argumen. Menyadari bahwa debat tidak selamanya dapat dihindari, kiranya menjadi penting bagi kita untuk mempelajari bagaimana debat yang baik, yg tidak memicu andernalin namun tetap cerdas dan tepat. Dalam usaha menuju kearah situ ada baiknya kita melihat petunjuk al-Qur'an tentang seni berdebat atau Jadal. 
Jadal dan jidal memiliki makna bertukar pikiran namun dengan cara bersaing dan bahkan berlomba untuk mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata-kata جـدلت الحـبل yakni أحـكمـت فـتلـه (aku kokohkan jalin tali itu) atau bahasa yang mungkin lebih akrab bagi telinga orang Indonesia jadal adalah debat, mengingat kedua belah pihak yang berdebat selalu mengokohkan pendapatnya masing-masing dan senantiasa berusaha untuk menjatuhkan lawannya dari pendirian-pendiriannya. Dalam al-Quran Allah banyak menggunakan kata-kata jadal, antara lain: "Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah". (al-kahfi: 54)

Selain itu ada juga ayat lain yang menyebutkan kata jadal dalam perintah untuk membantah, selain itu juga menyebutkan seni membantah (yakni dengan cara yang baik): "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". (an-Nahl: 125)

Dalam ayat yang lain bahkan Allah menyebutkan larangan untuk berdebat dengan kaum musrik kecuali dengan cara yang paling baik:" Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[1], dan Katakanlah: "Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri". (al-Ankabut: 46). 

Munazarah demikian bertujuan untuk menampakkan hak (kebenaran sejati) dan menegakkan hujjah atas validitasnya. Itulah esensi metode jadal Qur'an dalam memberikan petunjuk kepada orang kafir dan mengalahkan para penentang al-Qur'an. Ini berbada dengan perdebatan-perdebatan manusia pada umumnya yang hanya menaruhkan hawa nafu, ditambah lagi dengan perdebatan yang bathil. Dalam hal ini Allah SWT memberikan pernyataan: "Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan". (al-Kahfi: 56) 

Metode berdebat atau membantah yang ditempuh al-Qur'an. 
Dalam membantah para penentang-penentangnya al-Qur'an banyak menggunakan dalil atau bukti-bukti yang kuat lagi jelas yang mampu untuk  menunjukkan kebenarannya dan dapat dimengerti bahkan terkadang oleh orang awam sekalipun. Dalam sejarahnya kita kenal bahwa selama ini al-Qur'an mampu untuk mematahkan lawan-lawannya dengan perlawanan dan pertahanan dalam uslun yang indah susunannya serta kongkrit hasilnya.

Al-Qur'an tidak menggunakan metode-metode yang seringkali dipegang teguh oleh para ahli kalam yang dalam suatu sisi selalu saja memiliki kelemahan, menurun Mana'kahalil al-Qatan hal ini dikarenakan:
"Al-Qur'an turun dalam bahasa arab dan menyeru dengan ragam atau gaya bahasa yang akrab dengan mereka kala itu".
Berdasarkan pada fitrah jiwa, yakni percaya pada apa yang disaksikan dan apa yang dirasakan tampa harus selalu menggunakan metode berfikir yang mendalam dan membingungkan dalam beristidlald akan lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektiv hujahnya.

Cara-cara yang biasa ditempuh oleh ahli mantik biasanya selalu menggunakan bahasa yang jlimet dan pelik dan ini tidak sepenuhnya benar. Karenanyalah dalil-dalil tentang tauhid, kehidupan setelah kematian yang banyak diungkapkan dalam al-Qur'an merupakan dalalah tertemtu yang dapat memberikan makna yang ditunjukkan secara otomatis tampa harus memasukkannya kedalam qiyas kulliyah (universal proposision).

Dalam kitabnya ar-Raddu 'alal Mantiqiyyin Ibn Taimiyah mengatakan:
Dalil-dalil analogi yang diungkapkan para ahli debat yang mereka namakan bukti-bukti (barahin) untuk menetapkan adanya tuhan sang pencipta yang maha suci dan maha tinggi itu tidak secuilpun mampu untuk menyebutkan esensi Zatnya. Yang dapat dilakukan mereka biasanya hanya menyebutkan sesuatu yang mutlak dan universal yang konsepnya itu sendiri tidak bebas dari kemusrian, sebab jika kita mengatakan "ini adalah muhaddas dan setiap muhaddas pasti mempunyai muhdis (pencipta). Atau ini dimaknai sebagai sesuatu yang mungkin dan setiap yang mungkin harus mempunyai yang wajib yang mana pernyataan seperti ini hanya menunjukkan muhadis mutlak dan wajib mutlak.

Dalil-dalil Allah atas ketauhidannya, ma'ad (hidup kembali di akherat) yang diberikannya, beserta bukti yang yang ditegakkannya bagi kebenaran rasulnya, tidak memerlukan qiyas syumul atau qiyas tamsil. Menurut az-Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhan pada dasarnya al-Qur'an sudah mencakup segala macam dalil dan bukti. Bahkan tidak ada satu dalil pun baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal kecuali sebenarnya telah dibicarakan oleh kitabullah. Namun, dalam kitabnya Allah mengemukakan dengan gaya yang sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab (tidak menggunakan metode berfikir kalam yang rumit) hal ini dikuatkan dengan firman Allah: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". (Ibrahim:4)

Tidak jarang juga Allah memaparkan seruannya dalam bentuk argumentasi dengan makhluknya dalam bentuk argumentasi paling agung bahkan terkadang melipuputi juga bentuk argumentasi yang paling pelik dan rumit. Tentu saja ini memiliki tujuan, paling tidak agar orang awam dapat memahani dari bentuk argumentasi yang agung itu sehingga dapat memuaskan mereka dan mampu menjadi alasan agar mereka dapat menerima hujjah, dan dari ayat-ayat (argumentasi-argumentasi) yang rumit pada dasarnya juga merupakan keagungan Allah dan dari celah-celah keagungannya itu sebagian ahli (sastra, kalam, filosof, dll) dapat memahaminya sebagai suatu keagungan yang besar. Itulah sebabnya ketika Allah berfirman mengenai ketuhanan-Nya atau yang lainnya terkadang diikuti dengan kata-kata "supaya mereka berakal", "bagi mereka yang memiliki akal", "mereka yang mendengar", dan lain sebagainya yang paling tidak kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa diperlukan pengetahuan yang mendalam untuk memahami petunjuk (argumentasi-argumentasi) Allah.

Meskipun tidak sama persis denagn metode berfikirnya orang-orang ahli kalam, namun dalam beberapa ayat-Nya al-Qur'an terkadang memiliki nilai-nilai ilmiah yang dapat dibuktikan dengan metode kalam…. Diantaranya adalah: "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan". (al-Anbiya': 22) Sebab sekiranya alam ini memiliki dua pencipta, tentu pengendalian dan pengaturan keduanya tidak akan selamanya berjalan dengan sejalan dan seteratur alam yang kita kenal sekarang bahkan kemungkinan terbesar adalah sebaliknya, karenanyalah Tuhan itu cukup satu. Kalau Tuhan itu lebih dari satu (misalnya dua) maka kelemahan akan menimpa mereka atau salah satu dari mereka. Hal ini karena andaikata salah satu dari keduanya ingin menghidupkan suatu jisim, sedangkan yang lain ingin mematikannya maka dalam kasus ini paling tidak ada tiga kemungkinan:
  1. Keinginan keduanya dipaksa untuk dilaksanakan, maka hal ini akan menimbulkan kontradiksi karena tidak mungkin dua hal yang bertentangan itu dapat berkumpul (dilaksanakan secara bersamaan) kecuali jika terjadi kesepakatan diantara tuhan-tuhan itu (dan itu juga sesuatu yang mustahil.
  2. Keinginan mereka tidak terlaksana, maka ini menunjukkan kelemahan mereka karena ridak dapat melaksanakan kehendaknya.
  3. Keinginan salah satunya tidak terlaksana, ini juga menunjukkan kelemahannya, padahal tuhan tidaklah lemah dan terkalahkan.
Macam-macam perdebatan dalam al-Qur'an.
Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah untuk melakukan perintah itu, pemikiran untuk dijadikan dalil bsgi penetapan dasar-dasar aqidah, seperti ketauhidan Allah dalam uluhiyahnya dan keimanan kepada malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasulnya, dan hari kemudian. Hal seperti ini banyak diungkapkan dalam al-Qur'an misalnya:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu Mengetahui. (al-Baqarah: 21-22)
Kemudian misal:
Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (al-Baqarah: 163-164) 

Membantah pendapat para penentang dan lawan serta mematahkan argumentasi mereka. Seni perdebatan al-Qur'an yang ini memiliki beberapa bentuk: 
  • Membungkam lawan berbicara dengan dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima baik oleh akal, hal ini bertujuan agar ia mau mengakui apa yang tadinya diingkarinya. Seperti halnya penggunaan dalil denghan makhluk untuk menetapkan adanya: "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka Telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". 
  • Mengambil dalil dan mabda' (asal mula kejadian) untuk menetapkan ma'ad (hari kebangkitan). Dalm hal ini Allah SWT berfirman: "Maka apakah kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru". (Qaf: 15)
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (al-Qiyamah: 36-40)
"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)”. (at-Tariq: 5-8)
Termasuk diantaranya adalah beristidlal dengan kehidupan bumi sesudah matinya (kering) untuk menetapkan adanya kehidupan sesudah mati. Misalnya: "Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya dia Maha Kuasa atas segala sesuatu". (al-Fushilat: 39)
  • Membantah pendapat lawan dengan membuktikan (kebenaran) kebalikannya seperti: "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal Telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya" (al-An'am: 91) 
  • Menghimpun dan memperinci (as-sabr wat taqsim) yaitu menghimpun beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bukanlah 'illah, alasan hukum, sepertihalnya firmannya: Delapan binatang yang berpasangan sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan Ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (al-An'am: 143-144)
  • Membungkam lawan dan mematahkan hujahnya dengan menjelaskan bahwa pendapat yang dikemukakan itu menimbulkan suatu pendapat yang tidak diakui oleh suatu apapun, msalnya: Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri. dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui segala sesuatu. (al-An'am: 100-101)
Dari pembahasan singkat diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa cara berdebat yang baik menurut al-Qur'an bukan lah bontok-bontokan saja, namun lebih dari itu yang dibutuhkan dalam sebuah perdebatan adalah akal sehat yang tenang sehingga bisa mengarahkan pembicaraan. Dengan begitu debat yang baiaik, sebagai mana dicontohkan dalam gaya bahasa al-Qur'an, adalah debat yang cerdas bukan debat kusir.

Wallau 'Alam & Bersambung............ (Semoga besok bisa disambung)


[1]  Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

Sabtu, 19 November 2011

Menjadi Manusia Indonesia yang Normal

Judul itu berangkat dari pengalaman saya kurang lebih empat bulan lalu ketika pertama kali menempati kos ini (Rumah Pak.Endro, Janti 01/03). Seperti halnya umumnya anak kos yang baru menempati lingkungannya, saya berusaha membuka obrolan bersama teman-teman kos ini. Sekedar untuk mengkarabkan suasana, ngobrol tanpa tujuan pun mengalir begitu saja. Sekali dua kali ngobrol sayapun mulai mengenal mereka satu per satu. Mulai dari nama, asal daerah, kehidupan di daerahnya sampai tempat & jurusannya selama kuliah di Jogja. Ada yang menarik disini, meskipun sebenarnya dari enam tempat kos selama enam tahun saya tinggal di Jogja selalu ada nuansa baru yang khas antara satu kos dengan kos yang lainnya. Namun khusus untuk kos yang terakhir ini ada perbedaan yang jauh dari tradisi kos-kos sebelumnya. Disini hampir tidak pernah ada obrolan tentang Politik, ke Indonesiaan, Pergerakan ke Mahasiswaan, ke Masyarakatan ataupun ke Islaman.

Pernah suatu ketika saya mencoba mengarahkan pembicaraan pada ranah yang jarang tersentuh mereka itu. Namun setiap kali saya mencobanya setiap kali itu juga obrolan menjadi terhenti atau minimal tidak nyambung. Sampai akhirnya saya memahami fenomena ini, "bahwa setiap pola pikir manusia pasti terbentuk dari pengetahuan dan pengalamannya". Ya, karena seting sosial historis yang membentuk mereka tidak sama dengan seting historis yang membentuk saya dan teman-teman kos yang dulu akibatnya cara berfikir dan kecenderungannya juga berbeda. Akan sangat tidak bijak jika saya memaksakan apa yang menjadi keinginan pribadi kepada mereka. Yang paling bijak adalah mengajarinya secara perlahan dengan mengarahkan atau mengikutinya untuk memahami alur berfikir mereka baru setelah itu up to u...

Dari kedua opsi tersebut saya memilih opsi yang kedua. Meskipun tidak larut namun saya terus berusaha mengikuti untuk memahami alur berfikir mereka. Tidak pernah lagi saya memaksakan tema obrolan dengan menjadi "penyusup" dalam obrolan-obrolan hangat mereka. Sampai suatu hari selepas acara perkenalan IKAPMAWI Nasional saya bertemu dengan salah satu senior. Hal yang menarik untuk direnungi dari perkataannya itu: "Boleh lah kita idealis, berbicara tentang ideologi-ideologi dunia, tentang isu-isu ke Masyarakatan, ke Indonesiaan dll. Namun sesekali turunlah langsung ke masyarakatmu dan kamu akan tau ternyata tehnik menanam mangga jauh lebih mereka butuhkan dari pada pemahaman tentang ekonomi politik."

Dari situ saya mencoba memahami keterkaitan pernyataannya dengan jenis mahasiswa yang ada dikos baru ini. Mungkin saat ini adalah saat-saat peralihan dimana dunia ide sudah tidak lagi menarik bagi para pemuda bahkan yang menyandang gelar mahasiswa sekalipun. Bagaimana jika turun ke Masyarakat? Prediksiku juga tidak jauh berbeda, coba saja ngobrol dengan orang desa tentang kritik ekonomi politik Karl Mark, atau tentang teori politik & filsafatnya Plato dll. Saya brani jamin pasti mereka ngeblank...

Boleh kita idealis dengan faham-faham yang kita amini, namun kita juga harus sadar realitas. dan untuk memahami realitas sosial tersebut yang terbaik adalah kita turun langsung, ikut merasakan, ikut mengerti hingga akhirnya memahami. Memahami mayoritas orang Indonesia adalah petani dan mayoritas mereka miskin, memahami bahwa Indonesia adalah negara agraris yang subur dan makmur. Melupakan teknik mengolah tanah, 100% meninggalkan dunia pertanian dan peternakan tanpa kepedulian sedikitpun sama saja melupakan karunia terindah dari langit.
 

(Foto: Desa Munggang, 90% wilayahnya berupa sawah)
Indonesia adalah Negri Agraris,
Jangan Lupakan Itu...!!

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menyatakan bahwa manusia Indonesia yang normal adalah manusia yang memahami dan menyadari akan kelebihan bangsanya yang agraris serta berusaha memajukannya. Bukan manusia yang hanya berputar-putar dalam masalah ekonomi dan politik saja. Menjadi manusia Indonesia yang normal adalah menjadi manusia yang sesekali berbicara ranah praktis tentang pertaniannya atau peternakannya. Karena dengan begitu kita bisa menyatu dengan rakyat, tidak dijauhi karena tidak difahami dll. Manusia Indonesia yang tidak normal adalah manusia yang tidak menyadari kelebihan bangsanya atau bahkan cenderung meremehkan pertanian dan peternakan.

Jumat, 18 November 2011

Epistemologi (Teori Pengetahuan), Antara Barat dan Timur, Sebuah Pengantar

Pengetahuan (knowledge atau ilmu) merupakan suatu bagian yang esensial-aksiden bagi manusia. Hal ini karena pengetahuan merupakan buah dari "berpikir ". Berpikir (Natiqiyyah) adalah Fashl yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya (Hewan). Sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesies-spesies lainnya itu hanya karena proses berfikrnya yang kemudian menghasilkan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, manusia bisa membangun peradaban. Menurut saya ada beberapa pertanyaan mendasar mengenai pengetahuan itu sendiri, seperti: Apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia bisa memiliki pengetahuan? Apa yang harus ia lakukan atau dengan cara apa agar manusia memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Seperti itulah realita kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek



Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan  
Epistemologi
(teori pengetahuan atau Nadzariyyah al ma'rifah)

Kajian tentang Epistemologi sebenarnya belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Muthahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang Epistemologi hanya di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan ilmu mantiq. Berbeda dengan orang-orang Barat, mereka sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. 

Dunia barat (baca: Eropa) telah mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat sehingga merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual yang dibatasi (setidaknya menurut mereka). Masa Renaissance adalah titik balik yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). 

Sejak saat itulah bermunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul dan dapat bertahan hingga sekarang hanya ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dari kalangan kaum rasionalis kita mengenal ada Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris ada Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya.

Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam yang menjadi pemikir hebat tanpa meninggalkan agamanya seperti: Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.

Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Sehingga yang terjadi pada waktu itu kebenaran hanya tergantung pada apa yang mereka katakan. Sedangkan kebenaran yang riil hampir tidak pernah ada. 

Akhirnya, sebagai imbas dari kebenaran yang dibatasi hanya pada perkataan orang-orang tertentu saja, manusia waktu itu terjangkit sikap skeptis. Mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar menurut orang-orang shopis (yang memegang kebenaran dengan klaimnya sendiri). Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski Socrates berhasil, ia tetap tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.

Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.

Bersambung.............

Antara Mimpi dan Kesadaran.

"Gantungkan cita-citamu setinggi langit", kata yang sudah sangat familiar bagi para pelajar Indonesia. Kalimat itu menggambarkan betapa mimpi yang kita punya itu harus tinggi. Jangan bermimpi yang biasa-biasa saja, serta jangan sampai kita kehilangan mimpi. "Manusia bisa hidup beberapa hari tanpa makan atau minum, manusia bisa juga tetap hidup beberapa menit tanpa nafas, namun hakekatnya manusia akan langsung mati ketia dia kehilangan mimpi". Suatu ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya mimpi-mimpi bagi manusia.

Mimpi, keinginan dan cita-cita adalah sesuatu yang sangat wajar bagi manusia. Itu fitrah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tanpa fitroh itu manusia tidak akan maju, manusia tidak akan pernah menemukan apa yang kita bahasakan sebagai peradaban dll. Mimpi-mimpi yang besar menuntut pada pengorbanan yang juga besar, sehingga tidak heran jika ada pernyataan "Keinginan adalah sumber penderitaan".

Mendengar ucapan itu Aku teringat filem zombi, dalam filem itu digambarkan para zombi atau orang-orang yang menjadi zombi berjalan di muka bumi tanpa tujuan. Menurutku tak ada bedanya antara para zombi itu dengan orang-orang nyata yang hidup tanpa tujuan. Mereka hidup, tubuhnya bergerak, namun  hakekatnya mati. Hidupnya tidak bisa memberi manfaat apapun bagi orang lain selain hanya memenuhi bumi ini saja.
Pahamilah, karena tanpa kita sadari kita terlalu sering kehilangan tujuan.
Biasakan pada diri kita untuk menanyakan; Apa saya benar-benar sadar dengan apa yang terjadi pada diri saya sekarang...?
Mimpi-mimpi yang tinggi membutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi.

Senin, 25 Juli 2011

Anti Virus Manual & Up Date Anti Virus Manual

Yang dimaksud dengan Anti Virus manual adalah sekumpulan tool yang bisa digunakan untuk membersihkan virus secara manual. Secara pasti penulis sendiri belum tau Virus apa saja yang bisa disingkirkan dengan senjata ini, tapi setidaknya beberapa Virus bisa di hadang dg trik ini. Tool ini terdiri dari ATF Cleaner, Autoruns, Proses Explorer, HiJack This, dan Unlocker.

  1. ATF Cleaner; Digunakan untuk membersihkan seluruh sampah komputer (temporary, cookies, perfect, recycle bin, dll)
  2. Autoruns; Digunakan untuk mematikan proses yang dicurigai sebagai file virus yang berjalan pada explorer, logon, winlogon, service, drivers, dll
  3. Proses Explorer; Hampir sama dengan autoruns hanya saja tool ini hanya digunakan untuk mematikan proses yang berjalan pada explorer
  4. HiJack This; Masih sama untuk memeriksa proses yang berjalan pada komputer, selain itu jg dapat digunakan untuk menghapus host file dll
  5. Unlocker; Digunakan untuk menghapus file yang susah dihapus karena file tersebut sedang digunakan sistem ataupun virus


Cukup sederhana bukan...?? Saya yakin anda bisa mencobanya, namun jika anda masih susah mencobanya dan ingin dengan cara praktis saja, caranya mudah saja;
  1. Langkah pertama silahkan Down Load anti Virus terlebih dahulu (Misal AVIRA) Klik disini, 
  2. Setelah di Instal jangan lupa utk Up Date agar Anti Virus kita memiliki data Virus-virus terbaru utk di hadang. Cara Up Date langsung tinggal klik Up Date, atau bisa juga di sheting otomatis.
  3. Cara Up Date Manual, anda harus mendown load file IVDF -Incremental Virus Definition File-, semacam kumpulan data base virus. Misal ivdf_fusebundle_nt_en.zip,   
  4. Setelah mendown load langkah selanjutnya, Buka Avira anda, klik Up Date - Pilih Up Date Manual  muncul explorer bar untuk mencari lokasi dimana anda men-save update antivir, kemudian klik “open”, silahkan tunggu sampai selesai.

Kamis, 21 Juli 2011

Tgl 17 Bulan 7, Tahun ini kosong...


Tgl 17 Bulan 7 …
Lima Hari yang lalu…

Tgl 17 Bulan 7 …
aQ masih ingat,
Hari dimana dahulu engkau selalu melaksanakan puasa…
Hari ketika pagi, siang dan malamMu kau gunakan untuk sholat membaca al-Qur’an dan merenungkan perjalanan hidupMu.

Tgl 17 Bulan 7…
Hari Ulang TahunMu,
Ibu sayang…..

Tgl 17 Bulan 7…
Ibu,
Tahun-tahun setelah kau pergih tanggal itu kosong.

Setiap Tgl 17 Bulan 7
Kini hanya ingatan yang bercerita.
Bercerita tentang kita.
Tentang susah senang hidup kita.
Tentang pahit getir perjalanan kita.
Tentang harapan-harapanMu yang kita diskusikan.
Tentang do’a-do’a yang kau cucurkan.
Tentang rengekan-rengekanQ & keegoisanQ.

Oh Tuhannn…..
aQ yang tak biasa protes padaMu ini memohon izin,
aQ ingin beradu di sini.
Dengan langit dan makhluk malam ini.
Berselimutkan dingin sembilu.
Beralaskan hamparan kotak-kotak.

Ibu, aQ masih mampu terlena.
Terlena dengan semua memori tentangMu.
Bertemankan mimpi indah.
Yang pernah aQ alami dulu.

Ibu,
Sampai sekarang belum pernah aQ temui wanita sepertiMu.
Terkadang aq merasa rindu,
Ingin jumpa,
Ingin mencurahkan semua cerita,
Ingin melihat senyum dan mendengar suaraMu yg selalu mampu mengundang naluriQ tuk menyandarkan semua lelah.

Ah,....
Setiap kali aq sadar,
Setiap itu pula aq terpukul.
Telak....
Tepat di jantungQ,
Karena semua itu hanya imajinasi.

Minggu, 19 Desember 2010

Tahun Baru dan Haflah Akhirussanah


Rasanya masih teringat dibenak kita, tentang janji-janji & harapan-harapan pada penghujung 2009 yang lalu. Dan tak terasa kini 2010 akan segera berakhir. Cepat sekali bukan? Seperti biasa kita akan mengenang kembali apa yang telah terjadi dalam 1 tahun ini. Begitupun secara otomatis kita berpikir dengan rencana kita tahun depan, tentang cita-cita dan harapan-harapan yang ingin kita capai pada tahun 2011 mendatang. Terlepas dari pro kontra perayaan “Tahun Baru”, bagi penulis jika pergantian tahun dimaknai dengan proses tersebut (Penggabungan antara “Rafleksi” “Evaluasi” & “Proyeksi”) bukan ritual khas westren yang berbau hedonis dengan segala konsekwensinya, maka tak ubahnya prosesi Tahun Baru itu sama halnya dengan “Haflah Akhirussanah”.

Secara etimologi Haflah Akhirussanah merupakan gabungan dari tiga kata. Pertama, haflah, yang berarti pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta, upacara (A. W. Munawwir, 1997: 280); kedua, akhir, yang berarti akhir (A. W. Munawwir, 1997: 12); ketiga, sanah, yang berarti tahun (A. W. Munawwir, 1997: 670). Jadi Haflah Akhirussanah adalah perayaan atau pesta – dengan mengacu pada arti perayaan atau pesta – akhir tahun.

Sebagaimana makna harfiyah diatas, Haflah Akhirussanah lebih condong pada arti perayaan atau pesta, namun perayaan atau pesta di sini bukan berarti secara umum, artinya Haflah Akhirussanah mengandung makna (hikmah) yang lebih bersifat moral dan sosial, yaitu; pertama, sikap wara’. Wara’ di sini bukan cuma sekedar keluar dari perkara subhat tetapi lebih ditekankan - seperti kata Yusup ibn Abid - pengoreksian diri dalam setiap keadaan (Risalah al-Qusyairiyah: 109-111). Sehingga dalam Haflah Akhirussanah koreksi diri sangat diperlukan, artinya apa yang dikerjakan saat ini setimpal atau seimbangkah dengan apa yang dikerjakan dalam satu tahun, baik bersifat transendental maupun sosial.

Dalam moment Haflah Akhirussanah, benar-benar dituntut untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan dan merenungkan terhadap tingkah laku, baik yang telah dikerjakan (Pra Haflah Akhirussanah). Bukan sekedar hiburan dan pentas seni saja, dan tradisi ini sudah sangat subur hidup dipesantren. Tradisi yang sudah tumbuh subur bahkan sejak sebelum bangsa Indonesia terbentuk.

Namun menjadi “Dusta” kemudian, ketika pada tahun baru kita mengucapkan janji, menebarkan mimpi-mimpi/ harapan dan cita-cita dengan tingkatan realisasi yang “Nol”. Bermimpi, bercita-cita itu penting (Sebagaimana telah saya singgung pada tulisan saya dahulu yang berjudul Imagination) sebagai penyemangat serta arahan hidup kita. Namun konsentrasi untuk mewujudkan cita-cita dalam berbagai tindakan juga tidak kalah penting dibanding berkonsentrasi dalam berencana dan bermimpi. Terlalu sering kita berkonsentrasi untuk ingin ini dan itu, tapi hanya terhenti disitu tidak dilanjutkan dengan berkonsentrasi dalam mewujudkan ini itu.

Sehingga sering terjadi (misal) mimpi-mimpi yang kita angankan ditahun 2008 dengan “PD-nya” kemudian kita ulang lagi pada tahun 2009, lantas kemudian karena tidak ada usaha sungguh-sungguh untuk mengejar mimpi kita ulangi lagi harapan-harapan itu pada tahun baru 2010, kemudian apakah menjelang tahun 2011 ini akan diulangi lagi…? Bukan berati hal itu tidak sah, ketika impian itu belum tercapai bagi sayah sah-sah saja anda mengulanginya lagi. Tapi sadarkah anda betapa tertinggalnya anda dari citra diri yang anda idelakan sendiri, banyangkan saja citra yang seharusnya sudah terbangun pada tahun 2008, kemudian belum terwujud sampai menjelang tahun 2011 karena citra itu hanya berada ditataran konsep saja “Tanpa ada usaha untuk merealisasikannya”. Bayangkan seandainya ditahun 2008 citra itu berhasil andawujudkan, saat ini pasti anda sudah mengharapkan citra lain yang jauh lebih tinggi bukan..??

Berencana dan bercita-cita boleh saja, asalkan kita tidak lupa pada tataran realisasinya, bukan sekedar ditataran wacana ataupun bermimpi. Terkadang kita juga begitu menginginkannya cita-cita kita terwujud, hingga lupa berproses. Lupa bahwa beberapa hal tertentu, bahkan banyak hal yang ternyata butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. Kita terobsesi untuk menjadikan impian segera nyata, ingin instant, akhirnya menjadi seseorang yang tidak ‘menapak’, tidak realistis, tidak matang. Berproses adalah hal yang alami dalam kehidupan dan dapat membuat diri kita matang. Proses harus dijalani dengan penuh alias kesadaran, tentang mengapa, apa, bagaimana, dimana, kemana, kapan dan siapa yang sedang berproses disini. Karena diakuiatau tidak kita ini terlalu sering tidak sadar, bahkan terhadap apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita lakukan.

Dalam perjalanan berprosespun kita harus senantiasa mengevaluasi dengan menempatkan diri dilingkar luar proses tersebut, supaya kita bisa melihat proses tersebut dalam sebuah perspektif dari luar ke dalam. Kalau kita tenggelam dalam lingkar dalam proses itu saja, kita bisa saja jadi kehilangan perspektif dan kehilangan objektifitas kenapa dan untuk apa kita berproses. Sama halnya seperti kita aktif diorganisais, pada mulanya kita berniat menjadikan organisasi itu menjadi alat untuk menempa diri, untuk belajar dll. Namun seiring dengan perjalanan waktu sering kita terlena dalam organisasi tersebut bahkan sampai menjadikan organisasi sebagai tujuan dengan mengesampingkan tujuan awal kita dan tujuan luhur “Asli” dari organisasi tersebut. Sering kita terbuai dengan indahnya ritual-ritual dalam organisai, jika tidak pernah mengevaluasi perjalanan dan tujuan kita tidak akan sadar bahwa terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Berhenti dan mengevaluasi proses dalam berkehidupan, sama pentingnya dengan mensyukuri tiap langkah proses yang sudah di lewati dan menikmati setiap prosesnya.
Terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Jika kita sadar akan hal tersebut, tentu itu menjadi tidak terlalu bermasalah. Terkadang membiarkan diri ‘kehilangan arah’ itu baik, jika memang ‘kehilangan arah’ tersebut dilewati dengan penuh kesadaran. Namun jika terlampau asik berproses dan sama sekali tidak menjalaninya dalam level kesadaran hingga lupa tentang kenapa dan apa objektifitas kita dalam berproses serta kemana arah proses kita ini, bisa-bisa proses yang kita alami dalam mencapai cita-citapun tidak efektif, bahkan bisa saja proses yang kita jalani menimbulkan kerusakan yang merugikan diri kita.

Wallahua’lam………..

Jumat, 17 Desember 2010

Imagination


Semakin moderen peradaban umat manusia, semakin banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia & semakin banyak juga orang cerdas yang ada didunia saat. Namun itu semua tidak indikator banyaknya orang besar yang naik kepanggung dunia, fakta ini sangat bertentangan dengan apa yang diperdiksikan oleh para pendahulu kita. Pada zaman dahulu para leluhur kita boleh saja mengimani secara total bahwa jika anak mereka pandai atau cerdas berpendidikan “Pasti” kelak ia akan menjadi orang besar. Mungkin saja saat itu mereka mengatakan hal tersebut dengan menyebutkan berbagai contoh sejarah, Tapi; sadarkah anda bahwa anda dilahirkan untuk zaman yang berbeda / benar-benar lain dengan zaman para leluhur kita. Zaman yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh para orang tua kita.

Faktanya; Saat ini banyak orang pandai… kepandaian dan pendidikan yang tinggi sudah tidak lagi dimonopoli oleh kaum ningrat, “Walaupun tidak bisa disangkal untuk konteks indonesia masih terlalu banyak anak bangsa yang belum bisa menikmati pendidikan karena faktor ekonomi dll”. Tapi setidaknya jurang besar antara kaum elit pendidikan dengan kaum dhu’afa yang tidak berpendidikan formal sudah sedikit terkurangi. Hal ini berati sudah banyak juga kalangan menengah kebawah yang melek huruf bahkan berpendidikan formal.

Akan tetapi kenapa angan-angan para orang tua yang menyatakan orang yang besar dan bisa mewarnai dunia adalah orang yang berpendidikan, cerdas & pandai ini belum terbukti. Indikatornya masih banyak pengangguran berpendidikan, begitu banyak sarjana-sarjana dari berbagai disiplin keilmuan namun tidak seimbang dengan lompatan-lompatan besar mereka untuk dunia.

Rahasianya bahwa sebenarnya ada perbedaan mendasar antara orang-orang cerdas & orang-orang yang dengan ide cemerlangnya ia mampu merubah dunia. Orang-orang seperti Einstein, Napoleon, Mozart, atau Sukarno. Adalah orang-orang mempunyai impian-impian besar, bukan hanya sekedar kecerdasan intelejensia & pendidikan tinggi saja. Mereka belajar dari orang-orang hebat, yang terhebat dalam sejarah, dan menyerap seluruh pengetahuan-pengetahuan besar mereka. Pengetahuan yang besar itu membuat mereka senang bermimpi. Senang bermimpi besar. Berani bermimpi besar. Hal-hal yang tidak terbayangkan oleh manusia-manusia lainnya. Dan impian-impian besar mereka yang ajaib datang dari sebuah kekuatan besar, sesuatu yang hanya dimiliki manusia-manusia terunggul di dunia (or mad men..). Sesuatu yang dinamakan,” IMAJINASI”.

Imajinasi secara umum, adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi. Percaya atau tidak, berikut sebagai sample saya sampaikan beberapa rahasia & petuah dari “sebagian” orang-orang besar dalam sejarah;

EINSTEIN, siapa yang tidak mengenalnya? Secara jelas ia pernah mengatakan; “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution”. (1879-1955)
Imajinasi lebih penting dari Pengetahuan. Karena pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia, mendorong perubahan, dan melahirkan kemajuan manusia. (Sekarang anda sudah tahu kenapa Einstein jadi genius).

NAPOLEON, Salahsatu jenderal terbesar sepanjang sejarah, penguasa Perancis di umur 30 tahun juga pernah menyatakan; "Imagination rules the world"

SUKARNO, Persiden RI pertama pada pidatonya, 29 Juli 1956 Juga menyatakan; "(Bangsa) Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika. George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah !!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. "Pennj-wise " tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara!".

Mungkin anda masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin imajinasi bisa mewarnai dunia..? Atau bagaimana mungkin imajinasi mampu membawa kita pada kesuksesan..?? bukankah imajinasi itu sesuatu yang tidak real..?

…..Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya…..

Nidji (OST Laskar Pelangi)

Sekarang, pernahkah anda berfikir apa jadinya jika orang-orang besar yang kita kenal dalam sejarah dahulu tidak pernah memiliki imajinasi yang besar..? Bagaimana nasibnya bangsa indonesia ini jika dahulu sukarno dkk tidak pernah berhasrat merebut kemerdekaan..?? Bagaimana nasib kita jika dahulu Edision tidak berimajinasi tentang kehidupan malam yang terang..?? Mereka semua manusia sama seperti kita, mereka semua punya pilihan untuk bermimpi atau tidak, untuk menjadi orang besar dengan karya besar atau menjadi orang yang biasa-biasa saja dalam hidupnya…??

Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan. Manusia yang hidup tanpa imajinasi adalah manusia yang mati sebelum bertemu malaikat maut, manusia yang hanya menambah beban dunia saja…!

Imajinasi itu adalah pikiran, yang melahirkan energi, yang menggerakkan tangan, jari, kaki, mata, dan anggota tubuh Anda lainnya. Bukankah sebagian yang telah kita peroleh saat ini pernah kita pikirkan sebelumnya? Tandanya energi itu mulai bekerja ialah ketika Anda akan menyusun langkah dan rencana untuk mencapai fantasi Anda, kemudian bergeraklah seluruh tubuh ini mengerjakan rencana-rencana itu. Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup Anda.

Jangan pernah takut bermimpi, karena hakekatnya tidak ada yang mustahil didunia ini. Sadari itu, bermimpilah dan kejarlah mimpi-mimpimu jangan pernah takut karena jika ada keinginan pasti ada jalan. Anda manusia, sama Suekarno, Napoleon, Einstein, Edision, dll. Jika sejarah mencatat mereka berhak menyandang “Nama Besar” untuk Dunia, kenapa anda tidak? Anda juga manusia sama dengan orang-orang sukses mereka juga manusia bukan dewa.....!!